in

Bunga Amarilis: Dulu Dianggap Gulma, Kini Jadi Destinasi Wisata

Ilustrasi bunga amarilis. Foto: Shutterstock

Kebun bunga amarilis di wilayah Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, kini menjelma menjadi destinasi wisata. Biasanya, kebun bunga amarilis ini akan bermekaran setiap akhir Oktober sampai awal November.

Saat bunga amarilis bermekaran, kebun milik Sukadi ini akan dikunjungi wisatawan dari berbagai kota kota, bahkan dari luar negeri untuk melihat tanaman bunga amarilis yang cantik.

Sukadi, pemilik kebun bunga amarilis tersebut, mengaku pada 2002, awalnya ia hanya iseng menyelamatkan tumbuhan yang dianggap gulma tersebut oleh masyarakat, lalu menanamnya di sekitar rumahnya.

Hingga akhirnya, kebun bunga amarilis miliknya banyak dikunjungi orang dan sudah dibeli dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Pada 2003 sampai 2015 itu, saya membeli bibit dari uang hasil jualan mainan,” kata Sukadi dikutip dari Kompas.com, Jumat (5/82022).

Selain itu, kata Sukandi, uang itu juga digunakan untuk membeli umbi dari petani. Saat itu, ia membeli dua ton bibit.

Pada 2014, tanaman bunga amarilis yang ditanamnya mulai tumbuh, lalu pada 2015 mekar bersamaan, dan viral di media sosial karena diinjak pengunjung.

Sebelum bunga amarilisnya bermekaran dan dikunjui banyak orang, ia sempat mendapat cibiran dari sebagian masyarakat.

Saat itu, pada 15 November 2015, ada kegiatan kirab budaya di desanya. Ia bersama beberapa warga membuat gunungan dari bunga amarilis. Ketika di jalan, sebagian masyarakat mencibirnya.

Namun, hal itu tidak membuatnya bergeming. Ia tetap fokus melanjutkan mengembangkan bunga amarilis. “Ya, dicibir karena itukan tanaman gulma,” ujarnya.

Pada 2015, Sukandi mengalami kejadian menyedihkan, yakni kebun bunga amarilis miliki diinjak-injak pengunjung. Namun, berkat kejadian itu, kebun bunga milik Sukandi ini viral dan dikenal masyakarat luas, bahkan hingga ke luar negeri.

Dari kejaidan tersebut, ia juga memperoleh modal untuk menanam bibit amarilis serta mendapat banyak bantuan lembaga atau komunitas untuk memperbaiki kebun amarilis miliknya.

Bantuan itu pun digunakan Sukandi untuk membeli umbi amarilis dan terus menanam bunga amarilis sampai saat ini.

Selain di Patuk, dirinya mengembangkan umbi di kawasan Kecamatan Tanjungsari dan terdapat ratusan ribu umbi yang sudah disemai.

Sebelum pandemi, Sukandi membeli umbi amarilis dibeli dari beberapa kota di Indonesia seperti Aceh, Riau, Padang, Labuhan Bajo, hingga Tomohon.

“Sejak pandemi, sepi pembelian bibitnya, terakhir kirim ke Riau sebelum puasa Maret lalu,” imbuhnya.

Wartini, istri Sukadi, menambahkan, beberapa pengunjung dari luar daerah sengaja datang untuk membeli atau sekedar melihat kebun bunga amarilis, yang juga dikenal dengan nama puspa patuk.

“Ya, ada yang datang sekadar melihat untuk membeli,” ucapnya.

Article by