in

Wajib Sediakan Obat-obatan ini di Rumah Ya!

Ilustrasi Obat-obatan (Freepik)

Menyediakan obat-obatan di rumah sangat penting untuk mengatasi sakit yang muncul secara tiba-tiba. Dengan memiliki obat-obatan tersebut, kita dapat memberikan pertolongan pertama saat sakit tanpa harus langsung pergi ke dokter. Selanjutnya, mari simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahui jenis obat apa yang sebaiknya selalu ada di rumah.

Parasetamol

Paracetamol atau asetaminofen adalah obat yang digunakan untuk mengobati demam dan nyeri ringan hingga sedang. Dalam dosis standar, parasetamol memiliki efek penurunan suhu tubuh yang ringan, dengan keampuhan yang lebih rendah dibandingkan ibuprofen.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cochrane Database of Systematic Reviews pada tahun 2016, parasetamol efektif dalam meredakan nyeri pada migrain akut, namun kurang efektif dalam meredakan nyeri kepala tegang episodik.

Parasetamol dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Menurut informasi dari National Health Service (NHS), dosis yang disarankan untuk orang dewasa adalah 1-2 tablet 500 mg hingga 4 kali dalam 24 jam. Namun, overdosis parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati.

Antihistamin

Ilustrasi Obat Antihistamin (pharmathirdpartymanufacturer.com)

Antihistamin adalah jenis obat yang digunakan untuk mengatasi demam dan alergi. Umumnya, orang menggunakan antihistamin generik yang dapat dibeli tanpa resep dokter untuk meredakan bersin, hidung tersumbat, atau gatal-gatal yang disebabkan oleh serbuk sari, tungau debu, dan alergi terhadap hewan.

Menurut National Health Service (NHS), antihistamin juga digunakan untuk mengobati konjungtivitis (peradangan pada konjungtiva) serta meredakan reaksi akibat gigitan atau sengatan serangga. Terkadang, obat ini juga digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan dan sebagai obat jangka pendek untuk mengatasi insomnia (kesulitan tidur).

Salah satu jenis antihistamin adalah azatadine. Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, dosis untuk orang dewasa adalah 1-2 mg setiap 8-12 jam, sedangkan anak-anak yang berusia 12 tahun ke atas dapat mengonsumsi 0,5-1 mg maksimal 2 kali sehari. Untuk anak-anak di bawah 12 tahun, disarankan untuk mendapatkan petunjuk dari dokter.

Dekongestan

Dekongestan adalah jenis obat yang digunakan untuk mengatasi hidung tersumbat serta mengurangi gejala pilek, flu, peradangan selaput lendir, demam, sinusitis, dan reaksi alergi lainnya. Mekanisme kerjanya melibatkan pengurangan pembengkakan pada pembuluh darah di hidung, sehingga membantu membuka saluran udara.

Dekongestan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti tablet, kapsul, cairan atau sirop, tetes, semprotan hidung, hingga bubuk yang dilarutkan dalam air panas. Umumnya, dekongestan dapat dibeli di apotek tanpa memerlukan resep dokter.

Setiap jenis dekongestan memiliki aturan pakai dan dosis yang berbeda, yang biasanya tertera di kemasannya. Namun, umumnya dosis tidak boleh melebihi 4 kali sehari. WebMD menyatakan bahwa dosis ini disesuaikan berdasarkan usia, kondisi medis, dan respons terhadap pengobatan.

Aspirin

Aspirin adalah obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, mengatasi nyeri, meredakan peradangan, atau menurunkan demam. Selain itu, aspirin juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit Kawasaki dan perikarditis, yaitu peradangan pada selaput pembungkus jantung atau perikardium.

Dalam keadaan darurat, aspirin dapat membantu selama serangan jantung, seperti yang disarankan oleh American Heart Association. Namun, penting untuk diingat bahwa aspirin tidak boleh diberikan kepada anak di bawah usia 18 tahun.

Aspirin sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makanan. Menurut MedicineNet, dosis aspirin untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang adalah 350-650 mg setiap 4 jam atau 500 mg setiap 6 jam. Namun, perlu diingat bahwa aspirin dapat menimbulkan efek samping seperti sensasi terbakar di perut, kram perut, mual, dan telinga berdenging.

Antasida

Ilustrasi Obat Antasida (science.org)

Antasida adalah jenis obat yang digunakan untuk mengurangi kelebihan asam di dalam perut dan meredakan gangguan pencernaan serta heartburn. Umumnya, antasida tersedia dalam bentuk cair atau tablet kunyah dan dapat dibeli di apotek tanpa memerlukan resep dokter.

Disarankan untuk mengonsumsi antasida segera setelah makan, karena efek obatnya dapat bertahan lebih lama jika diminum bersama makanan. Penting untuk tidak mengonsumsi obat lain dalam rentang waktu 2-4 jam setelah mengonsumsi antasida.

Obat tetes mata

Jika kamu selalu beraktivitas di depan komputer setiap hari atau sering terkena debu selama perjalanan menuju kantor, penting untuk menyediakan obat tetes mata di rumah.

Selain untuk mengatasi iritasi, obat tetes mata kadang-kadang diresepkan untuk mengobati infeksi virus atau bakteri, serta kondisi lain seperti glaukoma. Pastikan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah menggunakan tetes mata agar tidak terkontaminasi.

Dosis obat tetes mata disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Menurut laporan dari Healthline, jika mengalami kekeringan parah pada mata, mungkin diperlukan lebih dari empat tetes per hari. Penggunaan obat harus dihentikan saat kondisi mata kembali normal.

Salep antibiotik

Salep antibiotik digunakan untuk merawat luka luar seperti sayatan, goresan, atau luka bakar dengan tujuan mencegah dan mengobati infeksi kulit ringan. Pada dasarnya, infeksi kulit ringan atau luka luar dapat sembuh tanpa pengobatan, tetapi penggunaan salep antibiotik dapat mempercepat proses penyembuhan. Antibiotik dalam salep tersebut bekerja dengan melambatkan dan menghentikan pertumbuhan bakteri.

Penggunaannya cukup mudah, dimulai dengan mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian, bersihkan dan keringkan area luka, dan aplikasikan salep secara tipis ke kulit 1-3 kali sehari atau sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Itulah beberapa jenis obat yang sebaiknya selalu ada di rumah untuk memberikan pertolongan pertama dan demi menjaga kesehatan keluarga di rumah.